User Rating: 0 / 5

    Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
    dsc05511

    Hallo diblog kali ini saya akan bercerita tentang kepulauan Karimunjawa Jepara. Kalian sering mendengar bahwa Pulau Karimunjawa disebut sebagai “Paradise Island”. Sebenarnya ada apa sih disana ? Apakah ada sesuatu yang Amazing ? atau ada putrid Duyung ( eh korban sinetron ya )? Hmmmmm harus segera ada pembuktian.

    Jam 05.00 Pagi hari sampailah kita di pelabuhan Kartini, Kota Jepara. Datanglah rombongan trip yang lain, saya berkenalan dengan mereka dengan senyumm terbaikku (ehem ehem, ku perkenalkan gigi putihku dengan maksimal *masih Muka bantal belom mandi). Akhirnya inilah moment dimana saya naik kapal (jangan lupa minum obat anti mabuk ya )?. Dengan sabar antri di loket dermaga sembari menyodorkan Nama lengkap dan umur, karcis kapal KMP Siginjai pun kami genggam. Kami segera masuk kapal “Siginjai” yang mulai berlayar pada jam 7 pagi dengan estimasi waktu 4,5 jam perjalanan ( kalau High season kapal jalan jam 6 pagi). Sebenarnya ada 3 pilihan kapal penyeberangan yaitu kapal Express bahari, KMP siginjai dari jepara dan Express bahari dari Kendal.

    Waktu 4,5 jam tidak terasa, karena didalam kapal saya dan rombongan bisa menikmati indahnya hamparan lautan lepas sebari mengobrol ria. Kami juga menikmati indahnnya suasannya dengan naik ke atas deck kapal. Semua goncangan hati terasa sirna ikut terbang bersama angin yang mengepul diawan-awan biru dilangit penuh gembira (cieee,, puistis).

     mg 0041

    ( Tugu selamat datang karimunjawa )

     “Welcome to Karimunjawa Island”, teriakku dalam hati (wow..penuh kegirangan, berasa ingin salto, kayang dan berbagai atraksi lainnya) pada jam 11:30 siang hari. Setelah narsis foto dengan berbagai gaya didepan gapura Karimunjawa, kami pun beristirahat dirumah salah yang sudah kami booking. 

    Dari atas bukit Love kita dapat memandang pesona keindahan lautan karimunjawa yang exotis dari ketinggian. Biasannya pada sore hari banyak wisatawan berkunjung kebukit ini dimana para pengunjunng dapat melijatt pesona sunset dari bukit ini. Kurang dari satu jam perjalanan, dengan menggunakan mobil pick up, sampailah kami di Tracking Mangrove Forest di Pulau Kemojan. Taukah Anda? Konon katanya, dahulu kala Pulau Kemojan terpisah jauh oleh lautan dengan Pulau Karimun Jawa. Setelah ditanamnya mangrove, akhirnya kedua pulau ini bisa bersatu menjadi sebuah daratan. Dan satu lagi, hutan magrove ini adalah salah satu hutan magrove terbesar yang ada di Indonesia.  Nah, untuk memasuki hutan mangrove ini, pengunjung dikenai biaya Rp. 10.000/ orang. Dengan berbekal lotion anti nyamuk, kami siap menjelajah dan belajar tentang jenis-jenis tanaman mangrove yang dituliskan dengan jelas di tiap spot. Panjang jembatan tracking dihutan ini sekitar 1,3 km. Kami juga bisa menikmati indahnya panorama ekosistem mangrove dengan naik ke rumah “Menara Pandang.” Dengan naik tangga 3 lantai, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa dari atas.

    img 6541

    ( Bukit Love )

    img 6530

     ( Tracking mangrove)

    Setelah mengexplore bukit love dan Tracking mangrove, kami melaju ke wisata berikutnya, yaitu Pantai Tanjung Gelam (Asyiikk,, inilah yang kami tunggu-tunggu). Dengan membayar tiket Rp. 10.000/mobil, kami siap menikmati indahnya pantai. Dan wow..wow..wow.. Ini lah kali pertama saya melihat indahnya pantai dengan tiga warna biru yang berbeda (sangat muda, muda dan tua) dengan hamparan pasir putih jernih. Tanpa kode dan instruksi dari Leader, kami pun langsung lari tunggang langgang seperti dikejar macan untuk segera menyeburkan diri ke pantai.

    Pantai ini tampak khas dengan adanya pohon-pohon kelapa yang tumbuh miring serta karakter-karakter batu vukanik yang tidak bisa dijumpai dipantai lainnya. Kami terus menelusuri pantai hingga ke Batu Topeng. Disana kami menemukan gubug sederhana yang bisa menjadi tempat rehat sejenak untuk sekedar menikmati deburan omba. Setiap jengkal langkah, kami pun tidak lupa untuk mengabadikan moment kami, jepret sana, jepret sini, kanan kiri jepret, atas bawah jepret.
    Sol dan Nano pun tidak kalah antusias. Sambil makan gorengan mendoan dan minum kelapa muda, mereka bercerita bahwa mereka tidak pernah menjumpai pantai seindah ini. Pantai di Argentina warna airnya keruh dan dingin. Kemudian kami saling bercerita tentang keindahan negara kami (Indonesia Vs Argentina), sampai pada akhirnya sol bercerita tentang sejarah konflik negaranya dengan Britain (dan aku nggak mudheng babar blas).
    Belum lelah berwisata pantai, kami melanjutkan perjalanan mengejar Sunset di Bukit Joko Tuwo (namanya serem banget ya, hihi). Dibukit ini kami dikenai tarif Rp.10.000/orang. Dengan sedikit peluh mendaki beberapa anak tangga, kami bisa melihat indahnya karimun jawa dari atas awan. Kami saling berengkrama, bercanda, saling membully, sharing, bahkan juga curhat masalah pribadi. Disana kami bisa melihat Batu Tasbih dan Fosil Ikan Hiu Raksasa. Namun, kali ini kami kurang beruntung, karena matahari tertutup oleh awan, sehingga kami belum mendapatkan beautiful sunset yang kami cari.

    dsc05361

    ( Tanjung Gelam ) 

    gopr0730

    ( View Bukit Joko Tuo) 

    Spot Snorkling pertama kami di Pulau Menjangan Kecil. Disini kami bisa menjumpai indahnya ikan dan massive coral. Mas Dije menjelaskan “Coral hanya tumbuh maksimal 5 cm per tahun dan hanya butuh waktu 5 menit untuk merusaknya.” Ironi memang, masih banyak pengunjung yang belum tahu tentang ini, sehingga ada yang tidak sadar merusaknya.
    Perahu kami pun melaju kembali dengan gagahnya ke next spot, yaitu Pulau Cemara Kecil. Setiba dilokasi, kami langsung memasak air untuk membuat kopi, susu dan sereal. Guyonan hangat bertebaran dihati kami. Pasir putih yang mengkilap ketika diterpa cahaya matahari membuat hati kami terasa lebih damai. Kami menyusuri tepi sungai dan banyak menjumpai biota laut seperti Sen Dollar, Bintang Laut (Star Fish), Teripang (Sea Cucumber) dan Bulu Babi. Sol dan Nano juga tidak mau kehilangan moment. Mereka langsung berjemur (hobby bule pada umumnya).
    Setelah puas hunting biota laut, kami pun langsung menggelar beberapa makanan. Yeaah..kita akan makan siang. Dengan beralaskan beberapa kertas minyak, mulai menyiapkan nasi beserta lauknya. Kami makan bersama-sama tanpa ada sendok dan piring berdenting (yups.. hanya dengan tangan kosong). “Siapa yang cepat dia yang akan cepat kenyang...Serbuuu.”
    Setelah kenyang, kami melanjutkan ke wisata berikutnya, yaitu snorkling ke Gosong Sloka. Berbeda dengan tempat sebelumnya, disini kami menjumpai banyak ikan nemo dan Branching Coral. Kami (kecuali saya dan eva #stay di perahu-karena mabuk laut) mulai bergaya dengan mengambil foto Narsis.
    Nah.. puas foto-foto, melaju ke Pulau Menjangan Besar “Penangkaran Hiu”. Di destinasi ini kami disuguhi dengan aneka biota laut. Kami juga diijinkan untuk berenang & berfoto bersama Hiu dan Penyu (Jangan berfikir serem, mereka sudah jinak kok). Ada tiga jenis Hiu disini (Black Tip, Silver Tip dan Hiu Pari) dan ada dua jenis Penyu lain, dengan membayar IDR 40.000/orang, kami juga bisa foto bersama beberapa biota laut, diantaranya Bintang laut jenis Protogaster, 

    Catatan Trip
    Travel Blogs
    asiknya-liburan-di-karimunjawa,-jepara
    Muh zawahir

    User Rating: 0 / 5

    Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
    bukit-pandang

    Bukit Pandang merupakan tempat wisata yang belom banyak dikenal oleh para wisatawan. Tempat Ini terletak di Desa Durensawit Kecamatan Kayen Kabupaten Pati Jawa Tengah. 

    Awal mulanya tempat ini hanya tempat biasa, belum sampai satu tahun ini, tempat ini menjadi terkenal dikalangan pecinta tempat wisata di Pati Jawa Tengah. Lokasi air Bukit Pandang ini sangat mudah dijangkau, hanya dengan perjalanan kurang lebih sepuluh menit dari pusat Kecamatan Kayen Pati. Akses jalannya juga sangat mudah dan memadahi.

     mg 9919

    Untuk kendaraan motor dan mobil juga bisa sampai di Bukit Pandang . Hanya dengan merogoh kocek sebesar dua ribu rupiah untuk titipan sepada motor, anda bisa menikmati indahnya pemandangaan View kota Kayen dari atas bukit. Saat ini, pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk untuk masuk ke bukit pandang. Kalian cukup membayar biaya parkir untuk keamanan kendaraan senilai Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil. Dari Alun-alun Kayen, pengunjung mesti menempuh perjalanan sekitar 3,5 kilometer menuju Desa Durensawit.

    Akses jalannya cukup bagus, sehingga tidak menghambat pengunjung yang ingin datang ke sana. Sebagian besar pengunjung yang datang ke sana berasal dari kalangan muda-mudi yang penasaran dengan keindahan bukit pandang.   Selfie menjadi cara berwisata muda-mudi untuk mengabadikan momen terbaik saat berkunjung dengan latar belakang hamparan wilayah Pati yang luas. Nia, salah satu pengunjung menuturkan, bukit pandang punya sensasi wisata baru yang tidak ditemukan di daerah lainnya. Atmosfer udara yang sejuk di perbukitan Pati selatan setinggi 200 meter dinilai menjadi nilai plus berkunjung ke bukit pandang Durensawit.

     mg 9878

      

    Catatan Trip
    Travel Blogs
    bukit-pandan-durensawit-kayen
    Muh zawahir

    User Rating: 0 / 5

    Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
    nias

    Selain terkenal dengan pantainya yang indah, pulau Nias juga memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, maka apabila berkunjung ke Nias pastikan berkunjung ke desa Adat. Pada desa-desa tersebut banyak sekali eksotika yang tak hanya sekedar bercerita tentang tradisi dan budaya Nias pada masa sekarang saja, tetapi juga bangunan-bangunan yang merupakan bukti peninggalan sejarah masyarakat Nias di masa lampau. Sehingga seakan merasakan begitu uniknya kehidupan masyarakat Nias di era klasik dengan berbagai tradisi dan budaya yang diwariskan oleh leluhur.

    Hingga kini banyak wisatawan baik dalam maupun lur negeri yang memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat yang menetap di desa tersebut. Salah satu desa adat yang cukup popular di Pulau Nias adalah Desa Bawomataluo di Kecamatan Fanayama, Nias Selatan. Desa Bawomataluo ini sudah sangat populer di mata dunia internasional sebagai desa wisata di Indonesia yang begitu eksotis dengan pelestarian tradisi dan budayanya, bahkan nama desa ini saja sudah masuk tentative list world heritage oleh UNESCO di tahun 2009. Desa Bawomataluo terletak di Kecamatan Fanayama, Nias Selatan.

    Uniknya, untuk masuk ke dalam Desa adat Bawomataluo ini kita tidak bisa menggunakan kendaraan, kita harus melalui anak tangga yang jumlahnya sekitar 86. Sehingga untuk menuju ke Desa Bawamataluo ini kita diharuskan untuk mendaki anak tangga tersebut, dengan kendaraan diparkirkan di bawah. Setelah mendaki anak tangga, maka kita dapat melihat panorama Desa Bawomataluo yang membentang dengan indahnya di depan mata. Pemukiman tua ini merupakan asset tangible atau budaya fisik dengan sekitar lima ribu warga desa yang hidup didalamnya. Pertama-tama tentunya Anda akan menyaksikan ratusan rumah masyarakat yang berjejer dengan rapi di bagian kiri, diantara jejeran rumah masyarakat tersebut ada sebuah rumah yang bangunannya tampak paling tinggi. Ya, rumah tersebut adalah rumah pemuka adat di Desa Bawomataluo atau masyarakat setempat lebih sering menyebutnya sebagai Omo Sebua. Rumah adat kayu (Omo Sebua) merupakan rumah adat kayu terbesar di dunia yang tingginya mencapai 40 meter. Rumah adat Nias umumnya memiliki struktur bangunan yang solid dan diyakini sebagai wujud dari local genius antara kehidupan manusia dan alam.

    Dengan struktur pondasi yang kuat rumah-rumah adat ini tahan terhadap ancaman gempa dan banyak dikagumi oleh peneliti mancanegara. Selain unsur tangible didalam desa ini juga mempunyai unsur intangible yang masih terjaga yaitu ritual, upacara, kesenian dan sebagainya. Kedua unsur fisik dan budaya ini saling berkaitan, hal ini dapat dilihat di bagian kanan terdapat beberapa bangunan adat yang digunakan pada waktu-waktu tertentu misalnya untuk melakukan kegiatan perkumpulan antar masyarakat ataupun kegiatan diskusi yang berkaitan dengan tradisi Desa Bawomataluo. Ada satu lagi situs yang menarik perhatian yaitu sebongkah bebatuan yang disusun rapi dengan ketinggiannya yang mencapai 2 meter. Ya, bongkahan bebatuan ini adalah media yang digunakan oleh masyarakat Nias di masa dahulu untuk melaksanakan tradisi Fahombo atau lompat batu. Mendengar tradisi ini saya yakin anda langsung membayangkan gambarnya yang dulu pernah ada di uang kertas Indonesia bernilai 1.000 rupiah yang mulai beredar ditahun 1992.  

    Dahulunya, tradisi lompat batu adalah tradisi yang dilaksanakan secara rutin di Desa Bawomataluo sebagai sarana inisiasi bagi pemuda-pemuda yang akan dinobatkan sebagai prajurit yang membela desanya dari serangan musuh. Inisiasi ini juga sebagai penentuan sang pemuda pantas untuk menjadi seseorang yang dianggap dewasa dikalangan masyarakatnya. Namun sayangnya, kini tradisi tersebut tidak dilaksanakan lagi secara kultural, meskipun pada saat-saat tertentu tampak beberapa orang pemuda sedang berlatih untuk mencoba melompati batu tersebut, itu adalah latihan untuk atraksi pariwisata yang dibandrol dengan harga sekitar 150.000 rupiah bagi wisatawan yang ingin menyaksikannya.   Selain lompat batu, desa ini juga memiliki tradisi tari Perang Overall desa ini memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, ada banyak hal yang sangat menarik yang harus dilestarikan.Hal yang terpenting adalah menghargai dan membuat warga desa ini sadar dan turut serta melestarikan budayanya. Peran dari warga desa yang bisa melestarikan budayanya secara konsisten adalah poin penting untuk menjaga desa ini tetap hidup. Poin ini juga yang akan dievaluasi oleh UNESCO tiap tahunnya dimulai dari tahun 2009 agar nantinya desa Bawomatuluwo resmi menobatkan sebagai world heritage, mari kita tetap dukung salah satu asset kekayaan Indonesia ini sebagai warisan budaya dunia!

    Catatan Trip
    Travel Blogs
    exotisnyaa-desa-bawomataluo-kepulauan-nias
    Muh zawahir

    Page 4 of 5

    PROMO DOMESTIK

    PROMO INTERNATIONAL

    Mau Update Info Trip Terbaru ?

    Bergabunglah dengan Newsletter DetikWisata sekarang, untuk selalu update info menarik seputar trip detikwisata.com.

    () Mandatory fields

    © 2017 DetikWisata.com. All Rights Reserved. Designed By KreasiBagus