User Rating: 0 / 5

    Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
    img20170517161414

    Jika di Malang ada Kampung Wisata Jodipan atau di Yogyakarta ada Kampung Code, maka di Kabupaten Semarang ada namanya Kampung Kali Werno di Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa. Kampung Kali Werno ini adalah sebuah perkampungan yang dibelah Sungai Kalipanjang.

    Dinding rumah-rumah warga dicat warna-warni dengan motif tertentu. Meski belum semua rumah bercat warna-warni, tetapi sejak dibuat sepekan yang lalu Kampung Kali Werno ini sudah dikunjungi ratusan orang.

    bejalen

    Mereka menjadikan dinding rumah warga tersebut sebagai obyek foto selfie. Tidak hanya dinding rumah warga, tetapi juga jembatan talud yang ada sepanjang Sungai Kalipanjang dicat warna-warni.

    Di beberapa spot, ada sepeda dan vespa sebagai pelengkap untuk berselfie, semakin menambah kece spot foto di sana. Tidak hanya temboknya saja yang berwarna-warni, pagar pembatas jembatan di sepanjang jalan juga berwarna-warni, bagus dipandang.

    Kamu jangan khawatir dengan kondisi lingkungan di sana, warga sekitar sadar akan kebersihan lingkungan, jadi suasana di sana cukup nyaman, sehingga bisa membuat pengunjung betah jalan-jalan di sana. Pengelola wisata juga terkadang mengadakan even. 

     

    Catatan Trip
    Travel Blogs
    kampung-warna-bajalen-ambarawa-semarang
    Muh zawahir

    User Rating: 0 / 5

    Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
    img2342

    Orang kadang bertanya, untuk apa? Seringkali aku tak bisa menjawab. Tentu saja, menjelaskan hal seperti itu pada orang-orang yang bahkan tak pernah berani untuk mencobanya.
    Udara segar yang merasuk dada, cahaya matahari hangat yang menerpa wajah di puncak, atau lautan bintang di luar sana, bukan hal yang bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.
    Jika kalian, ‘para orang rumahan’, benar-benar butuh alasan kenapa kami suka mendaki, inilah alasannya.

    1. Untuk melihat betapa besar kuasa Tuhan
    “Subhanallah”.. ungkapan itulah yang selalu aku ucapkan saat berada di puncak gunung. Di ketinggian aku bisa melihat segala makhluk ciptaan Tuhan yang mengagumkan. Mulai dari birunya langit, deretan gunung megah, hijaunya pepohonan, danau yang menawan, tebing-tebing yang berdiri kokoh hingga dahsyatnya aktivitas gunung yang masih aktif.
    Setelah melewati medan yang tak mudah dan akhirnya bisa berdiri di puncak tertinggi, hal itu merupakan kepuasan tersendiri.
    Namun bisa sampai di puncak tertinggi bukan alasan untuk membusungkan dada. Samasekali tak ada alasan untuk itu. Justru disana aku menyadari bahwa aku sendiri adalah makhluk kecil yang tidak punya kuasa apa-apa dibandingkan dengan Tuhan yang maha Kuasa atas segalanya.

    2. Keluarga baru
    Mendakilah bersama, maka kalian akan semakin menjadi keluarga. Saat aku mendaki dengan teman-temanku, yang dulunya hanya sekadar teman biasa, akan berubah menjadi sangat erat saat mendaki bersama. Dengan mendaki bersama aku dan teman-temanku mengerti sifat asli satu sama lain. Nggak ada yang di buat-buat . Disana kita saling tolong-menolong, bertukar cerita, tertawa bersama, makan bersama dan juga terkapar bersama. Dari kebersamaan itulah aku merasa aku disana bukan lagi bersama dengan seorang teman tetapi lebih pada “keluarga”.
    Hal yang aku rasakan ketika dulu aku ikut disebuah acara pendakian massal salah satu Mapala di Solo. Yang aku kenal hanya satu sahabatku yang memang sudah sering mendaki bersama. Disana kami dikelompokkan dengan orang yang benar-benar nggak kami kenal sebelumnya. Orang-orang yang bukan hanya berasal dari satu daerah tapi dari berbagai daerah yang berbeda, dari seluruh Indonesia. Saat mendaki bersama, yang awalnya nggak kenal sama sekali berubah menjadi seperti keluarga yang begitu erat. Keakraban kami pun mengalir dengan sendirinya tanpa kami buat-buat.

    3. Menambah pengalaman hidup
    Selalu ada banyak cerita dibalik sebuah pendakian. Saat melangkah bersama, di tenda maupun sampai di puncak tertinggi. Bakal banyak pengalaman hidup yang diperoleh. Di alam aku belajar bagaimana aku dan rombonganku harus mampu tetap bertahan saat segala yang telah kami rencanakan sangat berbeda dengan yang terjadi. Dengan kondisi yang serba terbatas kami harus mampu belajar mengelola semuanya dengan baik. Bukan hanya itu kami juga belajar bagaimana menjadi pribadi yang baik, dengan tidak egois, tolong-menolong, saling peduli dan juga peka terhadap lingkungan sekitar kita.

    Kami cukup syok dengan kejadian itu. Untungnya di tas lainnya masih ada sedikit makanan sehingga kami masih bisa melanjutkan mendaki dengan menghemat konsumsi makanan agar cukup hingga nanti turun ke basecamp.

    4. Sejenak menjernihkan pikiran
    Sesuka apapun kita dengan rutinitas yang kita kerjakan, pasti akan ada saatnya muncul rasa jenuh dan bosan dengan rutinitas tersebut.
    Begitu pula aku yang masih kuliah dengan jurusan yang membutuhkan ketrampilan untuk menghitung, fisika. Jurusan yang masih menjadi momok bagi kebanyakan orang. Setiap hari aku ditemani berbagai rumus fisika yang telah ditemukan oleh para ilmuwan-ilmuwan terdahulu. Tak bisa aku pungkiri fisika memang sulit bagi setiap orang yang belum memahaminya.
    Karena itulah sesekali aku ingin menyegarkan pikiran dengan cara kembali ke alam. Menikmati tanah basah pegunungan, tergores ranting pohon ataupun digigiti serangga hutan. Terdengar menyebalkan bagi beberapa orang, namun hal-hal itu yang kadang membuat rindu pada alam.
    Walaupun sangat melelahkan, namun setelah berada di puncak rasa lelah itu seketika berubah menjadi senyum kepuasan. Pikiranpun menjadi segar dan tenang kembali.

    5. Karena aku SUKA
    Sejak kecil, seringkali saat pelajaran menggambar aku menggambar pemandangan gunung dan sekitarnya seperti ladang-ladang sawah, pohon cemara dan juga jalan . Dan tak kusangka sekarang aku dapat berada di tempat seperti yang aku gambarkan dulu. Ya aku suka dengan alam. Pesona alam membuatku selalu gembira dan senang saat melihatnya.
    Aku suka gunung, cukup dengan hal seperti itu untuk memotivasi diriku mencapai puncak. Bukankah kita tak butuh alasan untuk melakukan hal yang kita sukai?


    Lakukan apa yang kamu sukai, selama apa yang kita lakukan itu memang positif, why not?

    Catatan Trip
    Travel Blogs
    jangan-tanya-mengapa-saya-mendaki,-cobalah-sendiri
    Muh zawahir

    User Rating: 0 / 5

    Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
    20120930084247

    Goa yang satu ini memiliki kesamaan nama dengan Goa yang ada di KulonProgo, Jogja. Namun masih tak banyak orang yang tahu tentang lokasi wisata yang satu ini. Karena kebanyakan orang, mungin, tak begitu menyukai wisata goa yang masuk nya penuh perjuangan bahkan tak setenar Goa Gong di Pacitan.

    20120930 081958

    Tak jauh dari Semarang, kita akan menuju Goa Kies Kendo yang terletak di Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, sekitar 15 km dari Kendal Kota, atau sekitar 27 km dari Kota Semarang. Kalau dari arah selatan, bisa melalui jalur Kecamatan Boja. Sedangkan bila melalui arah utara, kitabisa melewati jalur Kecamatan Kaliwungu yang jaraknya lebih kurang 8 km.

    Daya tarik yang dimiliki merupakan pemandangan alam hutan, persawahan, bukit, gua alam, dan keanekaragaman flora maupun fauna. Wisata alam yang disuguhkan pun begitu beragam, misalnya kita bisa mandi di sungai dengan bermain bola sembari menikmati sejuknya alam, berkemah, panjat tebing maupun berfoto – foto. Mungkin, banyak orang yang kurang mengenal daerah ini dikarenakan kurangnya promosi tentang wisata tersebut, ataupun lokasi wisata ini hanya cocok bagi mereka yang mencintai olahraga yang memicu adrenalin. Karena saat saya kesana pun, banyak anak SMA tengah bermain tali menyiapkan diri melakukan panjat tebing.

    20120930 081740

    Dengan menyusuri jalan setapak berbatu perjalanan saya kali ini, akan disuguhkan pemandangan alam yang begitu indah dan menggugah adrenalin, ditambah dengan gemercik air yang berasal dari aliran sungai sekitar Goa. Semabari menuju mulut gua yang cukup curam, biasa disebut dengan “Gua Lawang” kita bisa melihat lorong-lorong di dalam gua yang dihiasi dengan ornamen stalagmit dan stalagtit dari tetesan air yang turun ke bawah yang telah berusia ratusan tahun.

    Saat berkunjung kesana, saya tertantang untuk mecoba memasuki salah satu gua dengan cara tiarap. Hal ini dilakukan karena lorong gua yang sempit. Gelapnya goa tak menyurutkan langkah kaki saya untuk mencoba pengalaman baru. Memasuki Goa dengan tiarap. Perlahan tapi pasti, dengan peralatan seadanmya saya yang tak memiliki pengalaman dalam hal ini, sangatlah nekad. Hehhe Didalam banyaklah hal baru yang saya temui. Keindahan alam di dalam sebuah goa. Sungguh pengalamn yang sangat patut di coba dalam hidup. Mengajarkan sebuah arti perjuangan. Betapa bangga nya saya saat mampu menemui titik akhir dari gua ini.

     

    Catatan Trip
    Travel Blogs
    goa-kis-kendo-kendal
    Evie

    Page 2 of 5

    PROMO DOMESTIK

    PROMO INTERNATIONAL

    Mau Update Info Trip Terbaru ?

    Bergabunglah dengan Newsletter DetikWisata sekarang, untuk selalu update info menarik seputar trip detikwisata.com.

    () Mandatory fields

    © 2017 DetikWisata.com. All Rights Reserved. Designed By KreasiBagus